Bahasa dan makna sebenarnya (Burung pak kepala desa)

Dalam situasi tertentu bahasa ucap dan makna sebenarnya tidak selalu sejalan. Apalagi, kalo melibatkan kata-kata yang memiliki banyak makna bisa ambigu jika tidak tepat penggunaanya menurut konteksnya. Contohnya adalah kata burung, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), makna kata burung :

bu·rung n 1 binatang berkaki dua, bersayap dan berbulu, dan biasanya dapat terbang; unggas; 2 sebutan jenis unggas (biasanya yg dapat terbang); 3 cak kemaluan laki-laki;


Sebagai ilustrasi, guyonan dibawah ini mungkin bisa memberikan gambaran lebih jelas mengenai apa yang saya maksud

Burung pak Kepala Desa

Seorang Kepala Desa memiliki hobi memelihara burung.
Pada suatu pagi, burung kesayangannya hilang. Wah, marah sekali dia.
Pak KaDes membawa masalah itu dalam pertemuan mingguan di desanya.

KaDes : ” Siapa di sini yang punya burung ? ”
Segera seluruh laki-laki yang hadir angkat tangan.

Kaget, pak KaDes mengoreksi :
” Bukan, maksud saya adalah siapa yang pernah lihat burung ? ”
Seluruh perempuan yang hadir angkat tangan.

Dengan muka merah padam pak KaDes menyambung,
” Maaf, bukan itu maksud saya. Maksud saya, siapa di antara kalian yang pernah lihat burung yang bukan milik sendiri ? ”
Separuh perempuan yang hadir angkat tangan.
Muka pak KaDes makin merah. Gugup.

” Maaf sekali lagi, bukan ke arah itu pertanyaan saya. Maksud saya, siapa yang pernah lihat burung saya ? ”
Sontak, isteri pak KaDes angkat tangan, disusul lima perempuan lain dengan malu-malu.

Muka bu KaDes merah padam . . . . .
Muka pak KaDes merah legam . . . . .
Semua yang hadir tegang . . . . . .
Pak KaDes melarikan diri . . . . .

Untuk menghindarinya perlu ditambahkan kata keterangan yang mengacu pada maksud sebenarnya, misalnya kata burung dalam cerita diatas perlu ditambahkan kata peliharaan sehingga menjadi burung peliharaan bukan burung dengan maksud yang lain. Tapi, kalo ditambahkan kata keterangan cerita diatas jadi tidak lucu lagi dan bikin pak lurah melarikan diri😀. Intinya hati-hati saja, kapan perlu  memberikan kata keterangan kapan membiarkan kata itu tetap ambigu.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s