Poligami, dari sudut pandang perempuan

Poligami, topik yang menimbulkan pro dan kontra di negeri ini. Meskpun demikian, tak jemu-jemu juga orang membicarakan meskipun masing-masing telah berdiri dengan pendirian dan dasar-dasar pemikirannya. Tapi ada yang menarik, minimal buat saya pribadi, beberapa pertanyaan kritis di novel ” Catatan Hati Seorang Istri” mengenai poligami yang sempat saya temukan. Novel ini merupakan hasil wawancara dan observasi dari sang penulis, Asma Nadia, kepada beberapa perempuan dan hasil pengalaman pribadi Asma Nadia mengenai rumah tangga dan segala perniknya dari sudut pandang para istri/wanita. Karenanya,  beberapa renungan dan pertanyaan berikut ini seolah mewakili sudut pandang kaum perempuan yang menurut saya perlu di renungkan oleh  siapapun.

Pertama, kebahagian dengan istri kedua belum tentu…karena tidak ada jaminan untuk itu. Apa yang diluar kelihatan bagus, dalamnya belum tentu. Hubungan sebelum pernikahan yang sepertinya indah, belum tentu akan terealisasi indah. ….Sementara luka hati istri pertama sudah pasti, dan itu akan abadi

Apakah para lelaki yang berpoligami, mereka yang beralasan menikah dalam kerangka sunnah Nabi atau alasan mulia lain, pernah sekejab saja merenung bahwa tindakan mereka telah menggoreskan tidak hanya luka yang coba diobati oleh para perempuan, tetapi juga stempel baru yang tidak mengenakkan bagi istri pertama?

Perempuan yang menempuh banyak pengorbanan agar bisa bersama lelaki yang dulu mendatangi mreka dengan kalimat-kalimat penuh bunga

Perempuan yang menyertai mereka di awal perkawinan, ketika perkejaan suami belum lagi mapan

Perempuan yang telah melahirkan dan membesarkan anak-anak dengan baik hingga menjadi sosok yang membanggakan

Perempuan yang telah menghabiskan kemudaan dan kecantikannya dalam bakti, cita dan keikhlasan bertahun-tahun hingga suami mereka sampai pada posisi sekarang

Katakan jika saya salah, tidak kah setelah semua yang mereka lakukan, seharusnya mereka dimuliakan?

“Tetapi dengan menikah lagi suami berusaha memuliakan istri tuanya Asma,,,,hingga mudah mendapatkan surga!”

Tetapi apakah dimadu dan menjadi istri tua, merupakan jalan satu-satunya untuk mendekatkan perempuan (yang telah menghabiskan tahun-tahun dalam kepatuhan dan bakti itu) pada surga?

2 Comments

Filed under Uncategorized

2 responses to “Poligami, dari sudut pandang perempuan

  1. Nyari yg pertama dulu mas..

    he..he…jadi kalo udah pertama boleh cari berikutnya??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s