Mengenai Jampidsus dan Jamdatun

Jampidsus dan Jamdatun Kejaksaan Agung RI, Mr. KYR dan Mr. UUS tersangkut paut dengan AS, tersangka penyuapan kasus BLBI. Bisa jadi mereka tidak terkait langsung dengan perihal persoalannya, tetapi membaca transkrip komunikasi telpon antara tuang-tuan itu dengan saudari AS membuat bertanya-tanya dimanakah etika dan integritas  para pejabat publik sebagai pilar keadilan di negeri ini. Baca saja petikan percakapan mereka melalui telpon berikut ini:

[Percakapan Mr. KYR vs AS]

AS (A): Halo.
KYR (K): Halo.
A: Ya, siap.
K: Sudah dengar pernyataan saya? Hehehe.
A: Good, very good.
K: Jadi tugas saya sudah selesai.
A: Siap, tinggal…

K: Sudah jelas itu gamblang. Tidak ada permasalahan lagi.
A: Bagus itu.
K: Tapi saya dicaci maki. Sudah baca Rakyat Merdeka?
A: Aaah Rakyat Merdeka, nggak usah dibaca.
K: Bukan, saya mau dicopot hahaha. Jadi gitu ya…
A: Sama ini mas, saya mau informasikan.
K: Yang mana?
A: Masalah si Joker.
K: Ooooo nanti, nanti, nanti.

A: Nggak, itu kan saya perlu jelasin, Bang.
K: Nanti, nanti, tenang saja.
A: Selasa saya ke situ ya…
K: Nggak usah, gampang itu, nanti, nanti. Saya sudah bicarakan dan sudah
ada pesan dari sana. Kita…

A: Iya sudah.
K: Sudah sampai itu.
A: Tapi begini Bang…
K: Jadi begini, ini sudah terlanjur kita umumkan. Ada alasan lain, nanti dalam
perencanaan.

Sumber detik.com

Sanggahan Mr. KYR:


Kemas sendiri pernah mengatakan percakapan tersebut terjadi karena dirinya pernah diminta Artalyta untuk memberitahu jika sudah ada keputusan soal penyelidikan BDNI. Kemas membantah telepon pemberitahuan dari dirinya adalah untuk meminta imbalan dari Artalyta.Penggunaan istilah joker oleh Kemas dan Arthalyta memang mengindikasikan kedekatan antara keduanya. Akan tetapi dalam pemeriksaan itu Kemas mengaku baru dua kali bertemu dengan Arthalyta di Gedung JAMPidsus. “Dia membantah keakraban tersebut dengan bukti bahwa setelah Arthalyta ditangkap, dia tidak dihubungi,” katanya.

[Percakapan Mr. UUS vs AS]

AS (A) : Halo …
UUS (U) : Ya.
A : Mas, aku nih Ayin.
U: Aa … gimana Yin?
A : Itu, si Urip. Tapi ini aku sudah pakai nomor telepon lain ini, aman. Ketangkep KPK di                rumah.
U : Di mana dia ketangkep?
A : Kan mau eksekusi itu kan
U : Eksekusi apa?
A : Ya itu biasa, tanda terima kasih itu. Nah, terus rupanya …
U : Terima kasih apa? Perkara apa?
A : Nggak ada sebenarnya nggak ada perkara apa-apa. Cuma dia kan baru terima dari, Urip …
Urip kita …
U : Iya … iya …
A: Sekarang telepon dulu Antasari bagaimana cara ngamaninnya itu.
U : Sebentar saya telepon dulu si Ferry

A : Ferry sudah aku suruh Djoko, Antasari Mas.
U : Coba-coba ya aku telepon Antasari dulu ya.
A : Antasari dulu, ini udah, Ferry sudah.
U : Urip sudah ama polisi? Darimana duit itu?
A : Dari aku
U : Hah!
A : Mas, jawab apa si Urip ya?
U : Ya, bilang aja nggak ada kaitannya kok. Dia kan gratifikasi belum waktunya, belum satu
bulan kok. Gitu loh caranya.
A : Itu bilang aja dari anakku, nggak ada keterkaitan kan?
U : Iya bilang aja begitu. Tapi klop nggak sama si anu, si, si, apa namanya si Urip.
A : Ya makanya, si U ngomong-nya gitu nggak? Bilang aja dari Agus ya.
U : Iya.
A : Ajudan.
U : Oh, jangan. Dia ngomong saya anu kok, anaknya sakit opo-opo, kan bisa aja.
A : Telepon aja ya. 0813xxxxxx
U : Siapa itu?!
A : Urip.
U : Yah, ndak mungkin lah Urip kan dimonitor.
Nggak, dikasih berapa duitnya itu?
A : Enam, ehmm, 660 ribu.
U : 60 ribu?
A : 660 ribu.
U : 660 ribu?! Berarti sekitar empat miliar?
A: Enam M.
U : Lailahaillalah… (ekspresi kaget..)

Sumber: Republika

Sanggahan Mr. UUS:

Untung menuturkan, dirinya memang mengenal Arthalita Suryani saat menjabat sebagai Direktur Penyidikan pada Jampidsus Kejagung. Namun secara etika profesi, Untung menegaskan, dirinya tidak pernah menjual kewenangannya kepada pihak-pihak lain. Buktinya, saat ia menjabat sebagai Direktur Penyidik pada Jampidsus, berkas perkara penyidikan kasus dugaan korupsi BLBI pada BDNI dengan tersangka Syamsul Nursalim siap untuk dilimpahkan ke pengadilan.Untung membantah isi rekaman pembicaraannya sendiri dengan Arthalita. Ia membantah telah membuat skenario penangkapan Arthalita oleh Kejagung dalam rangka untuk mengamankan Arthalita.
Menurut Untung, Kejagung saat itu memang ingin menangkap Arthalita karena Jaksa Urip yang menerima suap telah ditangkap oleh KPK tetapi Arthalita sebagai pemberi suap belum ditahan oleh KPK.

Sebenarnya saya berharap mereka mundur sebagai jaksa dengan penuh kesadaran atas dasar hati nurani dan pelanggaran etika sebagai penegak hukum. Tidak mutar-muter berdalih dan bersembunyi demi nama baik yang sering di identikkan demi hukum. Dengan berani mundur mereka telah berjasa luar biasa terhadap bangsa ini dalam menemukan dan menumbuhkan sikap-sikap yang dilandasi hati nurani sebagai roh integritas pejabat publik. Sesuatu yang semakin langka di negeri ini. Saya yakin, rakyat tidak akan mencerca mereka tapi sebaliknya angkat topi dan akan dikenang selalu sebagai pengalaman luar biasa yang mengisi lembaran sejarah bangsa Indonesia. Ok, kita tunggu aja perkembangannya.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s