Mengusir kerumunan burung

Pada prinsipnya, sebuah pengendalian populasi burung yang efisien memerlukan pemahaman tentang mengapa burung-burung itu berada ditempat tersebut dan mengidentifikasi entitas-entitas apa saja yang membuat mereka tertarik untuk bersarang ditempat tersebut. Selanjutnya bagaimana mengeliminasi entitas-entitas tersebut menggunakan metode yang cermat dan logis berbasiskan karakter burung [Scare-crow Bio-acoustic system,2006 ]. Dua pendekatan umum yang digunakan untuk pengusiran atau pengendalian populasi burung adalah (1) memodifikasi lingkungan atau habitat spesies burung menjadi tidak lagi menarik atau berkarakter tidak ramah terhadap kehadiran kelompok burung tersebut dan (2) menggunakan alat pengusir burung (dispersal devices)[W. Booth, Thurman].

Secara umum metode akustik di pandang sebagai metode yang efektif meskipun rentang terhadap perubahan kebiasaan dari obyek sehingga memberikan manfaat jangka pendek. Noise detterent dapat digunakan pada saat pengusiran menjadi bagian yang signifikan. Misalnya dapat digunakan alat-alat yang dapat mengeluarkan suara dengan pola acak pada frekuensi dan intensitas yang berbeda-beda untuk menghadirkan gangguan yang bersifat berulang-ulang. Alat-alat semacam ini dapatlah berupa whistles, sirens, firecrackers, recorded distress atau predator calls, dan automatic exploders. Sebuah survei yang telah dilakukan oleh Scare-crow Bio-acoustic system membuktikan bahwa pemutaran berulang-ulang distress call melalui alat yang berkualitas dan dioperasikan oleh orang yang berpengalaman mampu memberikan hasil yang bagus dalam program pengusiran.

Studi awal mengenai pengusirang burung menggunakan metode akustik pernah dilakukan di indonesia untuk mengatasi bird strike di area bandara udara (airport area)[Akil, Husein A . et al,2005 ]. Konsep kunci dari metode pengusiran burung di area bandara ini adalah menggunakan prinsip pemberian sebuah bentuk gangguan yang sering digunakan untuk sistem auditori manusia yang kemudian akan diterapkan untuk mengembangkan alat pengusir melalui pembuatan suara buatan. Tentu saja pendekatan ini berpotensi tidak aman dan tidak sehat terhadap manusia misalnya untuk para pekerja yang beraktifitas disekitar bandara akibat adanya kesamaan beberapa rentang frekuensi antara manusia dan burung. Oleh karena itu dalam studi ini dua pendekatan yaitu scaring manner dan auditory disturbance akan di investigasi lebih jauh untuk mengetahui efektifitasnya dari masing-masing bila di implementasikan di lapangan.

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam rangka kesuksesan program pengusiran burung bahwa ada 4 kunci keberhasilan dari program ini yaitu timing, persistence, organization dan diversity. Hal ini mengimplikasikan jika tidak ada satu metode yang memberikan hasil 100%. Karenanya, kombinasi berbagai teknik yang digunakan dalam strategi pengendalian , dipertimbangkan lebih efektif dibandingkan menggunakan satu metode meskipun model kombinasi jarang di evaluasi secara ilmiah[ Bishop, J.,2003].

2 Comments

Filed under Uncategorized

2 responses to “Mengusir kerumunan burung

  1. Mau ngusir burung atau “burung”? Hehehehe..
    Ini mestinya bisa dipake buat ngusir burung di jalan ganesha. Secara teknis sepertinya tidak susah, yang susah memulainya kalau “bahan bakar” nya tidak ada😀

    ya you know lah mister halim…, anyway thanks for stopping by

  2. Jackstar Harry

    Kalo “burung” bisa terusir saat bulan datang. Pak Kajur pasti belum tahu soal ini. Hohoho…

    Oiya, soal burung di Ganeca, aku pernah tuh kena tahinya. Sial! Ditunggu inovasinya, Pak Kajur!

    wah gak tuh kang jack….. bgmn hubungannya bulan dan burung?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s