Pemilu 2009…

Bulan desember, menjelang akhir tahun 2008 dan sebentar lagi kita akan bertemu dengan tahun 2009. Tahun depan adalah tahun pesta demokrasi buat rakyat indonesia. Ditahun itulah para pemimpin eksekutif dan anggota legislatif dipilih untuk menunaikan kewajibannya terhadap rakyat dalam 5 tahun mendatang. Para pelaku politik mulai sibuk berancang-ancang mengerahkan segenap usahanya dalam mengatur strategi terbaik demi menarik simpati masyarakat. Banyak isu yang diusung, mulai pasangan presiden, ideologi dan program partai:syariah atau nasionalis-pancasialis, sampai pada titik berat keberpihakan terhadap kelompok tertentu: petani,pebisnis, guru, buruh,pekerja seni, dsb.

Berbagai polling dan survei juga telah banyak dilansir. Tak kurang dari lembaga LSI, Litbang kompas, LP3ES dan litbang internal dari partai-partai peserta pemilu itu sendiri mulai menyampaikan hasilnya berikut intepretasi dalam bentuk gambaran politik yang bersifat alert dan opini bagi mereka pelaku politik dan sekaligus masyarakat luas. Ada yang percaya dengan hasil survei ini tapi banyak juga yang pesimis terhadap tingkat akurasinya dalam menentukan hasil akhir peta politik indonesia secara real.

Dari kesemuanya itu, ada satu isu yang terus mengemuka dalam konteks demokrasi di Indonesia yaitu GOLPUT sebagai representasi bagi mereka yang menarik diri tidak ikut serta dalam memberikan suara pada saat pencoblosan. Bila memperhatikan pilkada-pilkada yang telah dilakukan sebelumnya dan dari beberapa survei yang telah dilakukan tingkat Golput cenderung meningkat. Mungkin saja ini gambaran sikap apatis masyarakat tentang bangsa ini bahwa mereka tidak dapat menarik manfaat positif dari pesta demokrasi yang telah dilakukan. Bagaimana tidak, mereka yang terpilih sulit diharapkan bisa melayani masyarakat seperti yang dijanjikan selama kampanye berlangsung.  Pendek kata mau ada pemilu atau tidak nyata-nyata kehidupan tidak ada perubahan bahkan hidup makin susah terhimpit oleh kepentingan individu/kelompok dan kepentingan global.

Tapi, setiap pilihan tentu harus ada landasan yang mendasarinya. Harus ada sikap sadar terhadap setiap pilihan yang dilakukan. Kalo Golput memang menjadi ikhtiar sebagai bentuk tanggung jawab terhadap chaos yang terjadi di negeri ini maka buktikan bahwa kita berhasil menjadi individu yang memberikan alternatif-alternatif kehidupan. Minimal tidak merepotkan orang lain dalam menopang kehidupan berikutnya. Jangan sampai terbalik, sudah golput, menyusahkah orang lain dan masyarakat lalu ujungnya menyalahkan Pemerintah dan DPR yang tidak peduli pada nasib kita. Kalo terakhir yang terjadi maka tidak ada logika yang bersambung terhadap pilihan golput yang diambil.

Salam memilih…

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s